Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Biarkan semesta berjalan pada jalur takdir terbaiknya.

Gambar
Kadang, yang sudah susah payah dikejar, ternyata mengayuh pedal jauh lebih cepat, berlalu tanpa meninggalkan jejak.. Kadang, yang sudah sekian lama ditunggu-tunggu lewat, ternyata melalui rute yang berbeda. Kadang, yang tidak pernah singgah di ruang harap, malah tiba-tiba datang dan menetap. Biarkan semesta berjalan pada jalur takdir terbaiknya.

Tak Perlu Terburu-buru, Tuan..

Gambar
Tuan, tak perlu terburu-buru.. Kuntum di sudut ruang itu tak lagi menunggu. Ia tak lagi berseteru dengan jarum jam di dinding batu. Perjuangan butuh waktu, berhari-hari, berbulan-bulan, berapa lama pastinya, tak tahu.. Tuan, tetaplah tegap berjalan.. Dengan sebaik-baik kesabaran, Dengan sebaik-baik keikhlasan dan keyakinan.. Bahwa setiap ketetapan Tuhan adalah kebaikan, meski kadang banyak yang mempertanyakan.

"Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa, nak?"

Melihat perubahan zaman yang begitu cepat karena perkembangan teknologi sekarang, Pernahkah terlintas di pikiran kita kondisi seperti apa yang akan terjadi pada beberapa tahun yang akan datang?  Bagaimana jika di masa yang akan datang, ternyata anak-anak sudah tidak lagi punya cita-cita menjadi seorang guru, dokter, perawat, bidan, tentara, astronot, dan berbagai profesi yang kita impikan ketika kita kecil dulu? Bagaimana jika ternyata cita-cita anak-anak berubah... Ketika diberikan pertanyaan, "Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa, nak?" Kemudian jawaban mereka tidak terduga.. "Ibu... Saya mau jadi selebgram .. Jadi endorser terus dapat banyak uang" atau.. "Ibu... Saya mau jadi beauty vlogger " Bagaimana jika pada akhirnya ambisi hidup generasi yang akan datang adalah punya banyak followers, dilihat banyak orang, menjadi terkenal, mendapat banyak pujian, dan akhirnya punya banyak uang? Ah, iyaa... punya banyak followers di s...
Gambar

10.35 AM

Dan kita semakin tersadarkan.. Bahwa jarum jam yang terus berputar, Tidak lain hanyalah langkah-langkah menuju kebinasaan. Bergerak mendekatkan pada kematian. Tak tertahan, tak terhentikan. Iya.. kita, dunia, binasa.. hari ini, esok, lusa entah bila tiba waktunya Kita beranjak meninggalkan, Dengan perbekalan atau kekosongan. Menghadapkan wajah kemuliaan atau kehinaan. وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا "Dan jangan engkau jadikan musibah itu menimpa agama kami. Dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak keinginan kami dan puncak pengetahuan kami. Dan jangan Engkau jadikan orang yang tidak menyayangi kami sebagai penguasa kami." (HR. At Tirmidzi) اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَ...

Relakan, tuan..

Gambar
Untuk segala yang tumbuh pada tempat yang tak semestinya, Tak seharusnya pula dipelihara. Cabutlah tuan.. Relakan, campakkan.. Meski akarnya menjalar dalam diam Walau batangnya bertumbuh dalam kegelapan Bahkan daunnya tetap hijau dalam kekeringan, tanpa hujan Tak satupun jiwa mampu bersembunyi dari Tuhan. Dumai, 10 Muharram 1440 H

01 Muharram 1440 H

Gambar
Sudah sampai dimana hijrahmu? Apakah maksiat masih terasa nikmat?  Apakah kesibukanmu adalah kesibukan yang semakin mendekatkan diri kepada Allah? atau malah menjadi detik-detik waktu yang melalaikan? Adakah amal-amal baikmu selalu bertambah? Atau adakah amal-amal baik yang kau kerjakan benar-benar menghujamkan kecintaan dan ketaqwaan kepada Allah? atau jangan-jangan setan berhasil masuk diam-diam melalui celah-celah tidak kasat mata di hatimu dan menjadikanmu merasa bahwa dirimu lebih baik dari orang-orang yang belum melakukan amal yang sama? Bukankah semestinya amal kebaikan akan menumbuhkan ketaqwaan kepada Allah... Menjadi semakin takut kepada Allah, semakin merasa kurang dalam penghambaan kepada-Nya, semakin sibuk berbenah sehingga tidak lagi memiliki waktu untuk memberikan penilaian dan penghakiman kepada yang lainnya.  Sebab kita tak pernah tau, bisa jadi mereka yang terlihat awam di mata manusia justru adalah hamba yang begitu mulia di hadapan Alla...

Bertumbuh

Mari kita mengambil hikmah dari proses pertumbuhan sebuah tanaman. Proses pertumbuhan tanaman tidak pernah mulus-mulus saja. Ia melalui berbagai ujian. Adakalanya ia harus bertahan dalam kering kerontangnya kemarau.. Ada kalanya Ia mengokohkan diri pada genangan air di tanah akibat hujan berkepanjangan. Kadang dalam proses ujian itu pula ada makhluk-makhluk yang mengusiknya, hama tanaman. Begitu pula dalam proses bertumbuhnya kita. Adakalanya kita melalui berbagai ujian.. Kesulitan, kesedihan, kekurangan, kegagalan, dan banyak hal lainnya. Dalam ujian itu pula terkadang ada orang-orang yang singgah dan membuat dalamnya luka kita semakin bertambah. Ah… Tapi  apakah kita sudah seikhlas tanaman yang bertumbuh itu? Yang tak menyerah.. Yang tak risau dengan apa yang akan terjadi pada hari esok.. Yang tak menyalahkan hama tanaman yang tiba-tiba hadir mengusik hidupnya. Ia hanya tunduk pada penciptanya, ridho bahwa segala sesuatu yang hadir dalam proses bertumbuhnya adalah atas izi...
Gambar
Kadang, kita menemukan jalan yang membuat kita pada awalnya merasa asing untuk melewatinya. Tapi pikiran kita tak perlu sibuk menerka-nerka apa yang akan kita temukan di ujung jalan. Berjalan saja dengan tenang, dengan sebaik-baik keyakinan kepada Allah. Kebaikan, hikmah, dan kasih sayang Allah tidak hanya kita temukan pada ujung jalan kan? tapi juga pada setiap langkah dalam proses perjalanan. Jalani saja. Dengan sebaik-baik perjuangan, juga sebaik-baik ketundukan kepada Allah. Silaut, 16 Rabi'ul Akhir 1439 H ( Masih Tulisan Lama )
Kita memang harus belajar menahan diri untuk ringan memberikan komentar terhadap hidup orang lain. Bukankah segala sesuatu yang terjadi di hidup kita tidak selamanya adalah pilihan kita? Tidak semuanya adalah atas keinginan kita. Bisa jadi, orang yang kita komentari itu sedang bersusah payah menguatkan diri, membesarkan hatinya atas hal-hal yang dialaminya saat ini. Dan kita dengan tanpa rasa bersalah langsung memberikan komentar-komentar yang meruntuhkan bangunan kekuatan yang susah payah ia bangun. Kita memang harus belajar menjaga perasaan orang lain. Segala sesuatu di hidup kita terjadi atas izin dan kehendak Allah. Begitu juga pada hidup orang lain. Bisa jadi, apa yang terlihat buruk oleh pandangan kita ternyata adalah kebaikan bagi Allah. Dan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi pada hari esok kan? Allah yang lebih tau tentang segala kebaikan dan keburukan untuk setiap hamba-Nya. Tahan diri.. Mukomuko, 08 Rabiul Akhir 1439 H ( Postingan dari Tumblr yang dipindah...

Terimakasih

Gambar
Terimakasih sudah percaya, disaat pikiranku putus asa dan hanya meyakini bahwa semua ini hanya hampa pada akhirnya. Terimakasih sudah menetap, disaat hatiku bahkan sudah mengubur harap. Terimakasih sudah bertahan, disaat aku justru hendak berkemas untuk meninggalkan. Terimakasih.. Untuk tidak pernah menyerah, membersamai aku yang sering goyah. Pekanbaru, 25 Rabi'ul Awwal 1439 H ( Masih tulisan Lama )

Koreksi Hati

Sebab kita mencari ilmu bukan untuk memberikan penghakiman kepada orang lain, bukan untuk merasa lebih baik dari yang lain, bukan pula untuk memandang sebelah mata dan menjatuhkan yang lain. Kita belajar, untuk paham, untuk mengamalkan, untuk berbagi, untuk mengajarkan, untuk menjadi teladan. Jika hal-hal yang kita pahami malah membuat kita tinggi hati.. Coba koreksi.. Barangkali di hati kita lah letak masalahnya. Barangkali bertumpuk noda yang membuat ia tak lagi punya celah untuk menerima warna-warna kebaikan dari yang lainnya. Barangkali ia terlalu sempit untuk bisa berlapang-lapang mempersilahkan penghargaan, keikhlasan, dan kedermawanan duduk manis di dalamnya. Bukankah dengan banyak belajar justru seharusnya kita semakin sadar betapa masih besarnya ketidaktahuan kita? Betapa kita hanyalah hamba dengan begitu banyak keterbatasan. Semoga Allah menjaga kita, menjaga hati kita, menjaga pikiran kita, dan menjaga jiwa-jiwa lemah kita. Aamiin.. Dumai, 20 Rabi'ul Awwal...
Ketika orang lain terlihat buruk oleh kita, coba periksa.. Barangkali kacamata kita yang kotor dan berdebu, atau banyak goresannya. Atau ada kaca kusam di hadapan kita yang berada di tengah-tengah, antara kita dan orang yang kita lihat..  *Celah untuk berbaik sangka sama banyaknya dengan celah untuk berburuk sangka. Kita yang memutuskan memilih yang mana. Celah untuk mengintrospeksi diri dan memahami juga sama banyaknya dengan celah untuk menghakimi. Kita kendali diri.

Allah Selalu Tepat Waktu

Dalam berbagai hal, setiap kita melalui proses masing-masing dan waktunya masing-masing.. Ada yang langsung lulus pada Perguruan Tinggi Negeri yang dia inginkan.. Ada pula yang tertunda, dan mempersiapkan diri untuk seleksi tahun berikutnya. Ada yang bisa segera menyelesaikan kuliahnya dan tak perlu menunggu lama, ia memperoleh perkerjaan yang tetap dengan gaji yang menjanjikan, ada yang bisa segera menyelesaikan kuliahnya namun melalui proses panjang untuk memperoleh pekerjaan yang stabil, dan ada pula yang kelulusannya tertunda karena begitu banyaknya rintangan yang harus dilalui satu persatu, namun pasca kelulusan langsung memperoleh pekerjaan menjanjikan. Ada yang merintis usaha sedikit demi sedikit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk bisa menjadi pengusaha yang berhasil. Ada pula yang mampu sukses tanpa waktu yang lama. Ada yang telah menikah di usia muda dan memulai segala sesuatunya dari awal. Di bagian bumi lain, ada yang Allah pertemukan denga...

Hati yang Ridho

Ini cerita tentang seorang mahasiswa, ketika dalam masa-masa memperjuangkan kelulusan. Ia terlambat menyadari bahwa ternyata penelitian yang akan ia lakukan membutuhkan biaya yang lumayan banyak. Kesalahan pertama, ia tak lebih dulu mencari tau biaya yang akan diperlukan dan langsung saja mengajukan judul kepada sekretaris departemen. Qadarullah, judul langsung di ACC. Hanya satu kali proses pengajuan.Urusan pengajuan judul ini begitu mudah. Allah Maha Memudahkan. Beberapa hari setelah pengajuan judul, barulah ia menyadari terkait biaya penelitian itu. Seketika pikirannya kacau. Ia khawatir akan menjadi beban untuk orang tuanya. Memutar balik otak untuk mencari solusi paling baik. Apakah dilanjutkan saja? Ataukah judulnya diganti saja? Hitungan minggu berlalu, mahasiswa itu masih tak menemukan judul baru. Akhirnya, ketika liburan semester ia menyampaikan masalah itu pada keluarganya. Segala sesuatu yang ia khawatirkan sama sekali tak terjadi. “Gapapa nak, lanjut aja, nanti ...

Akhlak (Teladan)

Beberapa waktu yang lalu saya tanpa sengaja melihat video lucu2an dari selebgram dengan hashtag naik turun challenge. Saya penasaran dan kemudian mencari tau, lalu menemukan video siswa2 sekolah melakukan challenge ini. Sedih, membaca komentar2 netizen yg memberikan komentar2 pedas dan mengaitkan kerudung yg mereka kenakan dengan apa yg mereka kerjakan.  Dua hari yg lalu, saya tanpa sengaja melihat video sekelompok guru dengan seragam dinas, dan sambil memegang spidol, melakukan challenge yg sama dan mengunggahnya di sosmed. Saya semakin sedih.. Oh Allah… betapa kita sering sekali kesal ketika melihat anak-anak yang sudah berkurang rasa malunya, perilaku yang bertentangan dengan etika dan norma agama, namun tanpa sadar ternyata kita lah yang tidak menjadi cerminan yg baik untuk dijadikan teladan. Kita sering protes dengan akhlak anak2 zaman sekarang, tanpa sadar ternyata kita yang sudah lebih dewasa ini lah salah satu kelompok yang berkontribusi menjadi penyebabnya. Lisan kita yg k...
siapalah kita yang seringkali berbangga diri, padahal tak setitikpun yang ada pada diri kita adalah milik kita. Prestasi yang kita banggakan tidak lain adalah karena kebaikan dan kemurahan Allah.  Ibadah yang dibanggakan tidak lain juga karena Allah yang menggerakkan hati kita. Adalah taufiq dan hidayah Allah. Ketika memandang sebelah mata teman yang tertatih memulai hijrahnya, tidakkah kita sadar bahwa kita pun pernah berada di posisinya? Orang-orang yang menyambut baik kita ketika hijrah, jalan-jalan Allah yang terasa lapang dan menenangkan dalam prosesnya.. semua adalah kemudahan dan pemberian Allah. Adalah kasih sayang Allah. Sayang… apakah yang bisa kita banggakan? bahkan hati dan pikiran kita bukanlah milik kita. Semua adalah titipan, mudah sekali bagi Allah untuk mengambilnya kembali. Mudah sekali. Dumai, malam 12 Ramadhan 1438 H
09.32 AM Rumah Sakit sibuk, seperti biasanya. Banyak orang lalu lalang. Rumah sakit, adalah tempat dimana sebagian besar orang-orang yang berada di dalamnya terbelenggu kesunyian dalam keramaian. Seorang ibu hamil duduk di kursi pasien yang tersedia di ruang laboratorium, menatap kiri kanan. Matanya menyiratkan banyak tanya. Menatap ibu2 di sebelah kirinya, seperti ingin bertanya namun diurungkan. Lalu melihat ke belakang, sesaat kemudian kembali melihat-lihat seisi ruangan. Aku duduk disampingnya. Tersenyum, menyapa seadanya.  “dek, kalau mau tes darah nanti mereka ngujinya disini ya?” akhirnya beliau bertanya. Barangkali sejak tadi ini yg hendak beliau tanyakan. “Iya bu, nanti diambil darahnya dulu disini. Terus mereka uji di ruang sebelah sana” (saya menunjuk ruang sebelahnya) “oh gitu ya.. Saya gak orang sini jadi gak tau” “ibu dari mana?” “rupat dek, rumah sakit di rupat nyuruh periksa disini. Saya ke tempat adek saya di rupat, saya aslinya indramayu” (dengan logat jawa medok)...
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.”
Zy.. bagaimana sebenarnya perasaanmu, ketika realita jauh bertolak belakang dengan setiap rencana yang telah kau susun sempurna? bagaimana bisa senyummu tetap merekah menghiasi wajahmu yang selalu ceria? dengan begitu tenang kau katakan bahwa kita merangkai rencana dengan cita-cita, tetapi Allah merangkainya dengan cinta… Zy.. apa sebenarnya yang kau rasakan ketika kau berkali-kali kehilangan?Aku ingin menyediakan pundak untukmu bersandar.. namun kau justru begitu tegar. Kau bilang, “Sejatinya kita tidak pernah kehilangan, sebab semua yang ada di diri kita, di hidup kita, adalah milik Allah.. adalah titipan Allah.. Kita tak punya apa-apa” Zy… Mengapa kau tak pernah membalas atau paling tidak kesal sedikit saja, ketika banyak orang yang memberikan penilaian buruk terhadapmu? meremehkanmu.. Bagaimana bisa kau berujar “Jika mereka memahami keadaanku, mereka tak akan khilaf dalam memberikan penilaian terhadapku..”  Zy.. Ketika ikhtiarmu tak kunjung memperlihatkan hasil, pernahkah terbe...

Kasih..

Kekasih.. Telah kuhitung bintang-bintang. Berharap hati dan pikiran tersibukkan. Aku kira akan tenang. Ah, padahal cukup bersandar padamu jauh lebih menenangkan. Disetiap hujan datang, Ketika yang lain berharap ia mereda, aku justru sebaliknya. Berharap ia terus jatuh berirama.. Tanpa jeda, tanpa reda. Bukan karna ingin berdiri mambiarkan wajah disapu hujan dan menangis sejadi-jadinya, agar tak ada yang melihatnya. Sama sekali bukan. Bahkan menangis di keramaian dan langit terang benderang pun tak ada yang menyadari bahwa aku menangis. Kau yang memahami lebih dari diriku sendiri. Kekasih, disetiap angin datang berhembus kencang.. Aku berharap terbang, melayang, lalu kemudian menghilang. Sebab kukira aku hanya bayang, pun telah usang. Kekasih, aku ingin menerima dengan lapang. Tenang..Tetapi panah-panah ini berhamburan seperti hujan. Lebih menyakitkan daripada mematikan. Kekasih, izinkan aku menang. Dumai, 23 Rajab 1438 H

Allah Maha Tahu

Tentang desir hati yang kita sembunyikan dalam kelambu sendu Kita dekap penuh harap Kita tutup pintu rapat-rapat Allah Maha Tahu, kan? Kau ingat mendung sendu januari? Tiap hari awan berat, lalu berpindah tempat Tanah kita hanya menatap awan gelap. Tega benar angin membawanya pergi Mengguyur air sejuk di tanah yang lain lagi. Berkali-kali.. Kita hanya terkungkung mendung. Februari.. Angin berbaik hati. Hujan tumpah di tanah kita yang lama mendamba basah. Benarlah,  Allah Maha Tahu. Dumai, 04 Jumadil Akhir 1438 H
“Tidak ada yang lebih indah selain kebahagiaan ataupun kesedihan yang semakin mendekatkan hati dan jiwa kita kepada Allah. Semua perasaan itu beredar teratur pada orbitnya.. Bertasbih memuji-Nya.”

Kita tak Berjuang Sendiri

Kita tak pernah berjuang sendirian. Ada orang tua kita yang memastikan kita aman dalam perjuangan. Memastikan segala amunisi telah lengkap tersedia ketika mereka tak bisa secara langsung mendampingi. Menyertai setiap langkah kita dengan doa-doa syahdu yang mengangkasa. Kita tak pernah berjuang sendiri. Ada saudara-saudara kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita yang ikut bersusah payah mencari solusi terhadap permasalahan kita. Seketika beralih menjadi motivator-motivator terbaik. Menguatkan, mendoakan, menyiapkan dirinya menjadi danau paling luas untuk menampung derasnya rintik air mata dan kegundahan kita. Dan terlebih dari itu semua, Ada ALLAH!! Allah ingin kita berjuang, namun tak pernah melepas kita sendirian. Maha Baiknya Allah memberikan pertolongan-pertolongan dalam perjuangan kita. Melindungi kita dari segala bahaya. Melembutkan hati orang-orang yang kita temui dalam perjalanan, sehingga ikut memudahkan urusan kita. Allah ingin kita berjuang.. Belajar berbenah, mengambil hik...
Bismillahirrahmanirrahim. Pindah ke rumah ini lagi, setelah rumah yang kemarin diblokir~