09.32 AM

Rumah Sakit sibuk, seperti biasanya. Banyak orang lalu lalang. Rumah sakit, adalah tempat dimana sebagian besar orang-orang yang berada di dalamnya terbelenggu kesunyian dalam keramaian.


Seorang ibu hamil duduk di kursi pasien yang tersedia di ruang laboratorium, menatap kiri kanan. Matanya menyiratkan banyak tanya. Menatap ibu2 di sebelah kirinya, seperti ingin bertanya namun diurungkan. Lalu melihat ke belakang, sesaat kemudian kembali melihat-lihat seisi ruangan. Aku duduk disampingnya. Tersenyum, menyapa seadanya. 


“dek, kalau mau tes darah nanti mereka ngujinya disini ya?” akhirnya beliau bertanya. Barangkali sejak tadi ini yg hendak beliau tanyakan. “Iya bu, nanti diambil darahnya dulu disini. Terus mereka uji di ruang sebelah sana” (saya menunjuk ruang sebelahnya)


“oh gitu ya.. Saya gak orang sini jadi gak tau”


“ibu dari mana?”


“rupat dek, rumah sakit di rupat nyuruh periksa disini. Saya ke tempat adek saya di rupat, saya aslinya indramayu” (dengan logat jawa medok)


“oh gitu… Ibu mau periksa apa?”


Mata beliau menatap sedih. Ragu-ragu hendak menjawab. 


“HIV dek” *jleb (mungkin ini yg membuat beliau tadinya enggan bertanya pada orang di sekitarnya). 


Astaghfirullah.. Astaghfirullah..


Saya menjauh-jauhkan pikiran buruk tentang betapa “gila” nya prostitusi di Indramayu. Bisa jadi beliau bukan bagian dari mereka. Aku tak punya hak untuk berprasangka.


“Ibu hamil berapa bulan?” Saya mengalihkan pembicaraan.


“lima bulan dek, tadi sekalian periksa kehamilan. Alhamdulillah anaknya sehat”


“Alhamdulillah.. Sehat-sehat terus ya bu”


10.21 AM


Seorang ibu muda duduk menghampiriku yang sudah lebih dulu ambil posisi di depan ruang perinatalogi sekedar duduk untuk menunggu waktu.


Kami mendiskusikan banyak hal.. tentang pekerjaan, tentang masa-masa kuliah, tentang prinsip dan tujuan hidup. Lalu sampai pada pertanyaan yang spontan saja saya tanyakan,


“Kakak sakit apa?”


Beliau ragu menjawab. Perlahan menyeka air yang perlahan keluar di sudut matanya. Saya menyesal bertanya. Barangkali sejak tadi beliau berusaha untuk melupakan.


“kanker payudara, dek”


Lalu cerita beliau mengalir begitu saja. Tentang keluarganya yang masih belum tau tentang ini, tentang kekhawatiran-kehawatirannya akan ancaman masa depan setelah ini, tentang putra kecilnya..


10.43 AM


Seorang wanita paruh baya bergabung duduk di dekat kami berdua. Mendengarkan percakapan-percakapan kami yang terakhir.


“Jangan nangis dek.. Allah kasih kita ujian karena InsyaaAllah kita mampu melaluinya. Allah yang kasih penyakit, kita berusaha untuk sembuh, nanti Allah juga yang angkat”


Kemudian beliau bercerita panjang tentang penyakitnya, tentang anaknya yang batal wisuda karena harus operasi tumor ganas di lehernya. Dan banyak hal lainnya..


Setiap kita melalui bentuk ujian yang berbeda, porsi yang berbeda. Betapa sedih sekali jika bayi yang dikandung oleh Ibu yg terinfeksi HIV tersebut juga tertular virus ini melalui ibunya mengingat tingginya kemungkinan bayi tertular virus HIV dari ibunya. Baru saja ia hendak melihat bumi cinta Allah, namun dalam darahnya telah mengalir virus “menderitakan”. Semoga Allah lindungi ia.


Allah, betapa terlukanya seorang ibu yang akan sering meninggalkan anaknya karena pengobatan yang akan dilaluinya di rumah sakit. Betapa bujang kecil itu akan mendapatkan tempat main baru dengan pemandangan-pemandangan menyakitkan di RS ketika ia akan menjenguk ibunya.


Betapa hidup ini hanyalah sebatas syukur dan sabar. Betapa kami sering abai dengan semua nikmat. Hahahihi setiap hari, lupa melisankan pujian kesyukuran, iman yang naik turun, atau turun-turun :( Pun tak pula bersabar dalam ketaatan dan melalui setiap ujian.


Alhamdulillah, Allah pertemukan dengan mereka kemarin. Cukup memberikan banyak pelajaran, sekaligus tamparan.



- Lorong RSUD -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti adalah Konsekuensi Mencintai

sekilas kurasa 'ada'

"Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa, nak?"