Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Akhlak (Teladan)

Beberapa waktu yang lalu saya tanpa sengaja melihat video lucu2an dari selebgram dengan hashtag naik turun challenge. Saya penasaran dan kemudian mencari tau, lalu menemukan video siswa2 sekolah melakukan challenge ini. Sedih, membaca komentar2 netizen yg memberikan komentar2 pedas dan mengaitkan kerudung yg mereka kenakan dengan apa yg mereka kerjakan.  Dua hari yg lalu, saya tanpa sengaja melihat video sekelompok guru dengan seragam dinas, dan sambil memegang spidol, melakukan challenge yg sama dan mengunggahnya di sosmed. Saya semakin sedih.. Oh Allah… betapa kita sering sekali kesal ketika melihat anak-anak yang sudah berkurang rasa malunya, perilaku yang bertentangan dengan etika dan norma agama, namun tanpa sadar ternyata kita lah yang tidak menjadi cerminan yg baik untuk dijadikan teladan. Kita sering protes dengan akhlak anak2 zaman sekarang, tanpa sadar ternyata kita yang sudah lebih dewasa ini lah salah satu kelompok yang berkontribusi menjadi penyebabnya. Lisan kita yg k...
siapalah kita yang seringkali berbangga diri, padahal tak setitikpun yang ada pada diri kita adalah milik kita. Prestasi yang kita banggakan tidak lain adalah karena kebaikan dan kemurahan Allah.  Ibadah yang dibanggakan tidak lain juga karena Allah yang menggerakkan hati kita. Adalah taufiq dan hidayah Allah. Ketika memandang sebelah mata teman yang tertatih memulai hijrahnya, tidakkah kita sadar bahwa kita pun pernah berada di posisinya? Orang-orang yang menyambut baik kita ketika hijrah, jalan-jalan Allah yang terasa lapang dan menenangkan dalam prosesnya.. semua adalah kemudahan dan pemberian Allah. Adalah kasih sayang Allah. Sayang… apakah yang bisa kita banggakan? bahkan hati dan pikiran kita bukanlah milik kita. Semua adalah titipan, mudah sekali bagi Allah untuk mengambilnya kembali. Mudah sekali. Dumai, malam 12 Ramadhan 1438 H
09.32 AM Rumah Sakit sibuk, seperti biasanya. Banyak orang lalu lalang. Rumah sakit, adalah tempat dimana sebagian besar orang-orang yang berada di dalamnya terbelenggu kesunyian dalam keramaian. Seorang ibu hamil duduk di kursi pasien yang tersedia di ruang laboratorium, menatap kiri kanan. Matanya menyiratkan banyak tanya. Menatap ibu2 di sebelah kirinya, seperti ingin bertanya namun diurungkan. Lalu melihat ke belakang, sesaat kemudian kembali melihat-lihat seisi ruangan. Aku duduk disampingnya. Tersenyum, menyapa seadanya.  “dek, kalau mau tes darah nanti mereka ngujinya disini ya?” akhirnya beliau bertanya. Barangkali sejak tadi ini yg hendak beliau tanyakan. “Iya bu, nanti diambil darahnya dulu disini. Terus mereka uji di ruang sebelah sana” (saya menunjuk ruang sebelahnya) “oh gitu ya.. Saya gak orang sini jadi gak tau” “ibu dari mana?” “rupat dek, rumah sakit di rupat nyuruh periksa disini. Saya ke tempat adek saya di rupat, saya aslinya indramayu” (dengan logat jawa medok)...
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.”
Zy.. bagaimana sebenarnya perasaanmu, ketika realita jauh bertolak belakang dengan setiap rencana yang telah kau susun sempurna? bagaimana bisa senyummu tetap merekah menghiasi wajahmu yang selalu ceria? dengan begitu tenang kau katakan bahwa kita merangkai rencana dengan cita-cita, tetapi Allah merangkainya dengan cinta… Zy.. apa sebenarnya yang kau rasakan ketika kau berkali-kali kehilangan?Aku ingin menyediakan pundak untukmu bersandar.. namun kau justru begitu tegar. Kau bilang, “Sejatinya kita tidak pernah kehilangan, sebab semua yang ada di diri kita, di hidup kita, adalah milik Allah.. adalah titipan Allah.. Kita tak punya apa-apa” Zy… Mengapa kau tak pernah membalas atau paling tidak kesal sedikit saja, ketika banyak orang yang memberikan penilaian buruk terhadapmu? meremehkanmu.. Bagaimana bisa kau berujar “Jika mereka memahami keadaanku, mereka tak akan khilaf dalam memberikan penilaian terhadapku..”  Zy.. Ketika ikhtiarmu tak kunjung memperlihatkan hasil, pernahkah terbe...

Kasih..

Kekasih.. Telah kuhitung bintang-bintang. Berharap hati dan pikiran tersibukkan. Aku kira akan tenang. Ah, padahal cukup bersandar padamu jauh lebih menenangkan. Disetiap hujan datang, Ketika yang lain berharap ia mereda, aku justru sebaliknya. Berharap ia terus jatuh berirama.. Tanpa jeda, tanpa reda. Bukan karna ingin berdiri mambiarkan wajah disapu hujan dan menangis sejadi-jadinya, agar tak ada yang melihatnya. Sama sekali bukan. Bahkan menangis di keramaian dan langit terang benderang pun tak ada yang menyadari bahwa aku menangis. Kau yang memahami lebih dari diriku sendiri. Kekasih, disetiap angin datang berhembus kencang.. Aku berharap terbang, melayang, lalu kemudian menghilang. Sebab kukira aku hanya bayang, pun telah usang. Kekasih, aku ingin menerima dengan lapang. Tenang..Tetapi panah-panah ini berhamburan seperti hujan. Lebih menyakitkan daripada mematikan. Kekasih, izinkan aku menang. Dumai, 23 Rajab 1438 H

Allah Maha Tahu

Tentang desir hati yang kita sembunyikan dalam kelambu sendu Kita dekap penuh harap Kita tutup pintu rapat-rapat Allah Maha Tahu, kan? Kau ingat mendung sendu januari? Tiap hari awan berat, lalu berpindah tempat Tanah kita hanya menatap awan gelap. Tega benar angin membawanya pergi Mengguyur air sejuk di tanah yang lain lagi. Berkali-kali.. Kita hanya terkungkung mendung. Februari.. Angin berbaik hati. Hujan tumpah di tanah kita yang lama mendamba basah. Benarlah,  Allah Maha Tahu. Dumai, 04 Jumadil Akhir 1438 H
“Tidak ada yang lebih indah selain kebahagiaan ataupun kesedihan yang semakin mendekatkan hati dan jiwa kita kepada Allah. Semua perasaan itu beredar teratur pada orbitnya.. Bertasbih memuji-Nya.”

Kita tak Berjuang Sendiri

Kita tak pernah berjuang sendirian. Ada orang tua kita yang memastikan kita aman dalam perjuangan. Memastikan segala amunisi telah lengkap tersedia ketika mereka tak bisa secara langsung mendampingi. Menyertai setiap langkah kita dengan doa-doa syahdu yang mengangkasa. Kita tak pernah berjuang sendiri. Ada saudara-saudara kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita yang ikut bersusah payah mencari solusi terhadap permasalahan kita. Seketika beralih menjadi motivator-motivator terbaik. Menguatkan, mendoakan, menyiapkan dirinya menjadi danau paling luas untuk menampung derasnya rintik air mata dan kegundahan kita. Dan terlebih dari itu semua, Ada ALLAH!! Allah ingin kita berjuang, namun tak pernah melepas kita sendirian. Maha Baiknya Allah memberikan pertolongan-pertolongan dalam perjuangan kita. Melindungi kita dari segala bahaya. Melembutkan hati orang-orang yang kita temui dalam perjalanan, sehingga ikut memudahkan urusan kita. Allah ingin kita berjuang.. Belajar berbenah, mengambil hik...
Bismillahirrahmanirrahim. Pindah ke rumah ini lagi, setelah rumah yang kemarin diblokir~