Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Rindu Sederhana

Gambar
Ini hanyalah seuntai rindu yang sederhana Yang tak pernah memaksa untuk segera berjumpa Ini rindu yang kadang juga mengundang sendu Tapi lagi-lagi, ia tak terburu-buru mencuri waktu untuk bertemu Entahlah.. Beginilah caraku merindu Hanya menyerahkan segalanya seutuhnya pada Sang Penentu Memahami bahwa segala proses ini memang memiliki rentang waktu Rindu.. ku ikhlaskan kau menyerbu kalbu! Karena memang selalu begitu, semakin aku membunuhmu.. semakin aku pilu #Gubraaak #GalauBanget! *bersama sunyi, sendiri, menanti fajar hadir kembali...

Di...

Gambar
Di, sampai di titik manakah kini kau berpijak.. Adakah di sepertiga jalan? Mengapa tak lagi kau mengabarkan? Ada jiwa yang khawatir kau gamang di perjalanan tanpa teman Di, entah sampai kapan kau berpura-pura biasa Bertingkah seolah semua akan mereda meski tak terujar sebuah kata Sebuah kata saja! yang bisa menggambarkan betapa telah sekian lama kau merasa hampa Membiarkan segalanya tetap berakhir dengan tanda tanya. tak terhitung detik waktu yang kau lalui dalam ruang itu bersemayam dalam bisu pasrah saja membiarkan waktu menjadi penentu Di, ada isyarat yang tak bisa ditutupi Dalam kesendirian ingin ada yang memperhatikan Ada cemburu pada jiwa yang tak pernah ragu melewati jalan berliku Pada mereka yang semangatnya kian membara walau rentetan ujian mendera Pada jiwa-jiwa yang berurai air mata dalam sujudnya di setiap malam ketika yang lain tak terjaga Pada lisan-lisan yang berhias lantunan Al-Qur’an Pada nurani yang keyakinannya tetap mengh...

Hujan, Kembali........

Gambar
Hujan.... Deras terdengar jatuh menyebar di atap  kamar. Suasana hujan selalu menyenangkan. Bukan hanya karena ia menyejukkan, tapi juga menyeruakkan kenangan. Yaaa, kenangan. Terlalu banyak kenangan tentang hujan. Tidak, bukan tentang hujan, tapi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi kala hujan.. entah kenangan menyenangkan, ataupun menyedihkan... Hujan, lagi-lagi selalu bisa menghadirkan kerinduan dalam malam kelam, dalam kesendirian.. Hujan, kau tau? Malam ini pastilah jutaan mata sedang tertuju pada layar televisi menyaksikan pertandingan bola Indonesia melawan Korea Selatan. Tapi sayang, aku justru lebih memilih terjerembab dalam ruang segi empat ini, menikmati setiap irama suara yang tercipta dari tiap tetesmu.. tanpa ada suara lain yang menghadiri ruangan ini. Aku memilih sunyi. Karena ternyata nonton bola sendirian rasanya garing sekali -___- Baiklah hujan, malam ini aku hanya menikmati kerinduan dan membayangkan suasana di rumah yang pastinya saat ini...

Perasaan Oh Perasaan~

Gambar
"orang yang sering galau itu yang jauh sama Tuhannya cin..." *Jleb.. kalimat itu tanpa sengaja terlontarkan kepada seorang teman yang sedang menumpahkan semua keluh kesah dan kegalauannya. Ntahlah, sepertinya kalimat itu justru akan lebih tepat jika diteriakkan dan ditekankan kepada relung hati ini. Atau ditulis besar-besar dan ditempelkan di dinding kamar, di depan pintu, di angkot, atau bahkan di setiap sisi jalan agar tak sedikitpun terlupakan. Aahh...terkadang masalah perasaan perempuan ini memang membingungkan dan rumit sekali. Hari ini inginnya begini, esok atau lusa malah yang lain lagi. Pagi hari bahagia, siang bisa jadi malah bermuram durja.. “Wahai engkau perasaan, mengapa sulit sekali membuatmu bisa sejalan dengan pikiran. Andai bisa posisimu disandingkan setara dengan logika, pastilah terseimbangkan pembagian waktu itu. Misalnya, ada waktu untuk fokus kuliah, fokus ibadah, istirahat, dan ada pula waktu khusus untuk menyelesaikan konflik...

aku masih tak menemukanmu…

Gambar
sesungguhnya aku telah merasa, semenjak pertemuan pertama kita pada hari itu setelah jarak membatasi frekuensi pertemuan kita… kau tau? Aku telah mendengar banyak cerita tentangmu sebelum ini, tapi sungguh begitu besarnya k asih sayangku padamu membuat aku enggan percaya. Aku tak percaya, bagaimana bisa?   Bagaimana bisa kau menjadi selemah dan segoyah ini… bagaimana bisa hatimu yang dulu lembut menjadi sekeras ini? Bukankah dulu jiwamu begitu kekar , hingga tak ada satupun yang mampu membuatmu ge n tar. Bukankah kau dulu begitu tegar, hingga dalam luka pun hanya senyum hangat yang kau tebar.. Kau tahu? Aku begitu mengagumimu, mengagumi kasih sayangmu, mengagumi ketaatanmu, mengagumi semangat dan kerja kerasmu, mengagumi lisanmu yang selalu terjaga… Mengapa waktu begitu cepat merenggutmu, kau yang dulu. Aku tak ingin percaya, setelah sekian lama kebersamaan kita dalam mengukir jejak langkah dalam perjuangan itu… dalam setiap detail peristiwa semenjak...

Alam Lara..

 Alam raya saksi nyata tak bersuara atas jerit senjata memuntahkan pelurunya atas semburan darah yang membasahi tanah Ini bukan lagi tentang perjuangan kemerdekaan, kawan! bukan lagi tentang bendera yang hendak dikibarkan ini hanya tentang perjuangan pemikiran! kekuasaan, jabatan dan ketenaran.. senjata dusta mematikan realita melukai yang ikhlas mengabdi mencaci yang berpotensi menjunjung tinggi yang tak berbudi tak harus bisa berpendar untuk menjanjikan sinar tak harus mencurahkan tetesan kesejukan untuk menjanjikan awan kau hanya perlu melantunkan irama untuk berdiri di singgasana merangkai kata bak pujangga, melempar aura wibawa lalu bebas melanglang buana! Pohon kayu saksi bisu berita sendu yang dihantar sang bayu Alam raya hanya saksi nyata tak bersuara.. Alam raya alam lara… Lara rasa lara duka lara luka