Kasih..

Kekasih..

Telah kuhitung bintang-bintang. Berharap hati dan pikiran tersibukkan. Aku kira akan tenang. Ah, padahal cukup bersandar padamu jauh lebih menenangkan.


Disetiap hujan datang, Ketika yang lain berharap ia mereda, aku justru sebaliknya. Berharap ia terus jatuh berirama.. Tanpa jeda, tanpa reda. Bukan karna ingin berdiri mambiarkan wajah disapu hujan dan menangis sejadi-jadinya, agar tak ada yang melihatnya. Sama sekali bukan. Bahkan menangis di keramaian dan langit terang benderang pun tak ada yang menyadari bahwa aku menangis. Kau yang memahami lebih dari diriku sendiri.

Kekasih, disetiap angin datang berhembus kencang.. Aku berharap terbang, melayang, lalu kemudian menghilang. Sebab kukira aku hanya bayang, pun telah usang.


Kekasih, aku ingin menerima dengan lapang. Tenang..Tetapi panah-panah ini berhamburan seperti hujan. Lebih menyakitkan daripada mematikan.


Kekasih, izinkan aku menang.


Dumai, 23 Rajab 1438 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti adalah Konsekuensi Mencintai

sekilas kurasa 'ada'

"Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa, nak?"