Terimakasih




Terimakasih sudah percaya, disaat pikiranku putus asa dan hanya meyakini bahwa semua ini hanya hampa pada akhirnya.
Terimakasih sudah menetap, disaat hatiku bahkan sudah mengubur harap.
Terimakasih sudah bertahan, disaat aku justru hendak berkemas untuk meninggalkan.
Terimakasih..
Untuk tidak pernah menyerah, membersamai aku yang sering goyah.

Pekanbaru, 25 Rabi'ul Awwal 1439 H

(Masih tulisan Lama)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti adalah Konsekuensi Mencintai

sekilas kurasa 'ada'

"Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa, nak?"