“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.”
Menanti adalah Konsekuensi Mencintai
“Mau menunggu yang bagaimana lagi mbak? mbak ingin yang seperti apa?” Suatu kali aku bertanya padanya. Dia yang tengah sibuk menikmati setiap menit-menit pergantian siang menjadi malam. Dia menoleh, menatap mataku yang menyimpan banyak tanya. Diam. Matanya berkaca-kaca. Sungguh, sekian lama aku telah mengenalnya tapi aku tak pernah bisa membaca isyarat matanya. Aku melihat luka dan bahagia di saat yang sama, entah perasaan seperti apa yang sebenarnya ia rasa. “bukankah tidak baik jika perempuan terus-menerus melakukan penolakan? Jika sudah baik agamanya, baik akhlaknya, mapan, elok rupanya, lalu alasan kuat apa lagi yang mendasari penolakan itu, Mbak?” Dia kembali menoleh.. “mbak gak nyangka ternyata kamu sudah sedewasa ini” jawabnya sambil melempar senyum ke arahku. “Apakah ada yang mbak tunggu” aku tak menyerah, aku masih belum mendapatkan jawaban. Dia mengangguk pelan. Hening. Aku menunggu penjelasan. “bagaimana jika dia tidak tahu jika mbak menu...
Komentar
Posting Komentar