Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Bertumbuh

Mari kita mengambil hikmah dari proses pertumbuhan sebuah tanaman. Proses pertumbuhan tanaman tidak pernah mulus-mulus saja. Ia melalui berbagai ujian. Adakalanya ia harus bertahan dalam kering kerontangnya kemarau.. Ada kalanya Ia mengokohkan diri pada genangan air di tanah akibat hujan berkepanjangan. Kadang dalam proses ujian itu pula ada makhluk-makhluk yang mengusiknya, hama tanaman. Begitu pula dalam proses bertumbuhnya kita. Adakalanya kita melalui berbagai ujian.. Kesulitan, kesedihan, kekurangan, kegagalan, dan banyak hal lainnya. Dalam ujian itu pula terkadang ada orang-orang yang singgah dan membuat dalamnya luka kita semakin bertambah. Ah… Tapi  apakah kita sudah seikhlas tanaman yang bertumbuh itu? Yang tak menyerah.. Yang tak risau dengan apa yang akan terjadi pada hari esok.. Yang tak menyalahkan hama tanaman yang tiba-tiba hadir mengusik hidupnya. Ia hanya tunduk pada penciptanya, ridho bahwa segala sesuatu yang hadir dalam proses bertumbuhnya adalah atas izi...
Gambar
Kadang, kita menemukan jalan yang membuat kita pada awalnya merasa asing untuk melewatinya. Tapi pikiran kita tak perlu sibuk menerka-nerka apa yang akan kita temukan di ujung jalan. Berjalan saja dengan tenang, dengan sebaik-baik keyakinan kepada Allah. Kebaikan, hikmah, dan kasih sayang Allah tidak hanya kita temukan pada ujung jalan kan? tapi juga pada setiap langkah dalam proses perjalanan. Jalani saja. Dengan sebaik-baik perjuangan, juga sebaik-baik ketundukan kepada Allah. Silaut, 16 Rabi'ul Akhir 1439 H ( Masih Tulisan Lama )
Kita memang harus belajar menahan diri untuk ringan memberikan komentar terhadap hidup orang lain. Bukankah segala sesuatu yang terjadi di hidup kita tidak selamanya adalah pilihan kita? Tidak semuanya adalah atas keinginan kita. Bisa jadi, orang yang kita komentari itu sedang bersusah payah menguatkan diri, membesarkan hatinya atas hal-hal yang dialaminya saat ini. Dan kita dengan tanpa rasa bersalah langsung memberikan komentar-komentar yang meruntuhkan bangunan kekuatan yang susah payah ia bangun. Kita memang harus belajar menjaga perasaan orang lain. Segala sesuatu di hidup kita terjadi atas izin dan kehendak Allah. Begitu juga pada hidup orang lain. Bisa jadi, apa yang terlihat buruk oleh pandangan kita ternyata adalah kebaikan bagi Allah. Dan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi pada hari esok kan? Allah yang lebih tau tentang segala kebaikan dan keburukan untuk setiap hamba-Nya. Tahan diri.. Mukomuko, 08 Rabiul Akhir 1439 H ( Postingan dari Tumblr yang dipindah...

Terimakasih

Gambar
Terimakasih sudah percaya, disaat pikiranku putus asa dan hanya meyakini bahwa semua ini hanya hampa pada akhirnya. Terimakasih sudah menetap, disaat hatiku bahkan sudah mengubur harap. Terimakasih sudah bertahan, disaat aku justru hendak berkemas untuk meninggalkan. Terimakasih.. Untuk tidak pernah menyerah, membersamai aku yang sering goyah. Pekanbaru, 25 Rabi'ul Awwal 1439 H ( Masih tulisan Lama )

Koreksi Hati

Sebab kita mencari ilmu bukan untuk memberikan penghakiman kepada orang lain, bukan untuk merasa lebih baik dari yang lain, bukan pula untuk memandang sebelah mata dan menjatuhkan yang lain. Kita belajar, untuk paham, untuk mengamalkan, untuk berbagi, untuk mengajarkan, untuk menjadi teladan. Jika hal-hal yang kita pahami malah membuat kita tinggi hati.. Coba koreksi.. Barangkali di hati kita lah letak masalahnya. Barangkali bertumpuk noda yang membuat ia tak lagi punya celah untuk menerima warna-warna kebaikan dari yang lainnya. Barangkali ia terlalu sempit untuk bisa berlapang-lapang mempersilahkan penghargaan, keikhlasan, dan kedermawanan duduk manis di dalamnya. Bukankah dengan banyak belajar justru seharusnya kita semakin sadar betapa masih besarnya ketidaktahuan kita? Betapa kita hanyalah hamba dengan begitu banyak keterbatasan. Semoga Allah menjaga kita, menjaga hati kita, menjaga pikiran kita, dan menjaga jiwa-jiwa lemah kita. Aamiin.. Dumai, 20 Rabi'ul Awwal...
Ketika orang lain terlihat buruk oleh kita, coba periksa.. Barangkali kacamata kita yang kotor dan berdebu, atau banyak goresannya. Atau ada kaca kusam di hadapan kita yang berada di tengah-tengah, antara kita dan orang yang kita lihat..  *Celah untuk berbaik sangka sama banyaknya dengan celah untuk berburuk sangka. Kita yang memutuskan memilih yang mana. Celah untuk mengintrospeksi diri dan memahami juga sama banyaknya dengan celah untuk menghakimi. Kita kendali diri.

Allah Selalu Tepat Waktu

Dalam berbagai hal, setiap kita melalui proses masing-masing dan waktunya masing-masing.. Ada yang langsung lulus pada Perguruan Tinggi Negeri yang dia inginkan.. Ada pula yang tertunda, dan mempersiapkan diri untuk seleksi tahun berikutnya. Ada yang bisa segera menyelesaikan kuliahnya dan tak perlu menunggu lama, ia memperoleh perkerjaan yang tetap dengan gaji yang menjanjikan, ada yang bisa segera menyelesaikan kuliahnya namun melalui proses panjang untuk memperoleh pekerjaan yang stabil, dan ada pula yang kelulusannya tertunda karena begitu banyaknya rintangan yang harus dilalui satu persatu, namun pasca kelulusan langsung memperoleh pekerjaan menjanjikan. Ada yang merintis usaha sedikit demi sedikit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk bisa menjadi pengusaha yang berhasil. Ada pula yang mampu sukses tanpa waktu yang lama. Ada yang telah menikah di usia muda dan memulai segala sesuatunya dari awal. Di bagian bumi lain, ada yang Allah pertemukan denga...

Hati yang Ridho

Ini cerita tentang seorang mahasiswa, ketika dalam masa-masa memperjuangkan kelulusan. Ia terlambat menyadari bahwa ternyata penelitian yang akan ia lakukan membutuhkan biaya yang lumayan banyak. Kesalahan pertama, ia tak lebih dulu mencari tau biaya yang akan diperlukan dan langsung saja mengajukan judul kepada sekretaris departemen. Qadarullah, judul langsung di ACC. Hanya satu kali proses pengajuan.Urusan pengajuan judul ini begitu mudah. Allah Maha Memudahkan. Beberapa hari setelah pengajuan judul, barulah ia menyadari terkait biaya penelitian itu. Seketika pikirannya kacau. Ia khawatir akan menjadi beban untuk orang tuanya. Memutar balik otak untuk mencari solusi paling baik. Apakah dilanjutkan saja? Ataukah judulnya diganti saja? Hitungan minggu berlalu, mahasiswa itu masih tak menemukan judul baru. Akhirnya, ketika liburan semester ia menyampaikan masalah itu pada keluarganya. Segala sesuatu yang ia khawatirkan sama sekali tak terjadi. “Gapapa nak, lanjut aja, nanti ...