Menanti adalah Konsekuensi Mencintai
“Mau menunggu yang bagaimana lagi mbak? mbak
ingin yang seperti apa?” Suatu kali aku bertanya padanya. Dia yang tengah sibuk
menikmati setiap menit-menit pergantian
siang menjadi malam.
Dia
menoleh, menatap mataku yang menyimpan banyak tanya. Diam. Matanya berkaca-kaca. Sungguh, sekian lama aku
telah mengenalnya tapi aku tak pernah bisa membaca isyarat matanya. Aku melihat
luka dan bahagia di saat yang sama, entah perasaan seperti apa yang sebenarnya
ia rasa.
“bukankah
tidak baik jika perempuan terus-menerus melakukan penolakan? Jika sudah baik
agamanya, baik akhlaknya, mapan, elok rupanya, lalu alasan kuat apa lagi yang
mendasari penolakan itu, Mbak?”
Dia
kembali menoleh.. “mbak gak nyangka ternyata kamu sudah sedewasa ini” jawabnya
sambil melempar senyum ke arahku.
“Apakah
ada yang mbak tunggu” aku tak menyerah, aku masih belum mendapatkan jawaban.
Dia
mengangguk pelan. Hening. Aku menunggu penjelasan.
“bagaimana
jika dia tidak tahu jika mbak menunggu? Ataukah memang telah ada janji untuk
saling menanti?” lagi-lagi aku menyerbunya dengan tanya. Aku tau mbak paham
benar bahwa aku bukanlah orang yang bisa dengan mudah menerima jawaban tanpa
penjelasan.
Mbak
menarik nafas.. aku mengamati setiap gerak-geriknya
“Dik,
kamu tahu? Setiap hal dalam hidup ini memiliki konsekuensi. Setiap pilihan,
setiap keputusan yang kita ambil, ada konsekuensinya... termasuk juga
perasaan...” ia mengambil jeda, menatapku.. kemudian berpaling kembali.
“konsekuensi
dari mencintai adalah menanti. Bukan cinta jika ia tidak membuat kita ikhlas pada
penantian, meskipun itu memakan waktu yang cukup panjang. Mbak tak pernah
berjanji akan menunggu, begitu juga dia tak pernah berjanji akan datang
kembali. Bagaimana mungkin kami bisa saling berjanji jika interaksi itu hanya
dari hembusan angin yang melalui jiwa-jiwa kami, tak pernah tampak namun bisa
dirasa kesejukannya. Akankah dia datang? Mbak tak bisa memastikan. Tapi mbak
memiliki keyakinan. Tingkatan apa lagi yang lebih tinggi dari keyakinan?” dia
tersenyum kembali. Bulir-bulir air berjatuhan dari sudut matanya
Hening
sejenak
“sudah
berapa lama mbak tidak lagi bertemu dengannya?”
“enam
tahun”
6
tahun? Aku hanya terdiam.. dalam 6 tahun hanya usia yang terus bertambah,
tetapi perasaan tak pernah berubah. 6 tahun bukan waktu yang singkat untuk
menantikan “dia” datang ke “rumah”, “dia” yang bahkan untuk sekedar berpapasan
pun tak lagi pernah. Aku baru mengerti
ternyata cinta mampu memberikan kekuatan sehebat ini.
Allahu Akbar Allahu Akbar...
Adzan
maghrib berkumandang. Percakapan itu tak lagi dilanjutkan..
***
4
bulan kemudian akhirnya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar dihadirkan.

Komentar
Posting Komentar