Karakter Surga



Nemu di folder foto PBL, gak tau siapa yang jepret. Ijin dipake fotonya ya Saliters :D

Semakin kesini saya semakin menyadari bahwa lingkungan dan pengalaman adalah sekolah yang paling mempengaruhi pembentukan karakter dalam diri manusia. Saya ingat sekali dulu waktu di Sekolah Menengah Atas, Kepala Sekolah kami adalah orang yang tak pernah bosan membahas perihal karakter ini di setiap moment, ketika amanat upacara bendera hari senin, apel pagi hari rabu dan kamis, rohis pagi hari jumat, seusai senam hari sabtu. Selalu saja ada sentilan perihal karakter jika microphone sampai di tangan beliau. Tak peduli cuaca sedang panas terik, mendung sendu, gerimis manja, bahkan saat kabut asap sekalipun. Dan dulunya saya adalah bagian dari siswa yang menggerutu karena bosan sekali rasanya mendengarkan itu-itu saja (maafkan saya pak).
 
Saat ini, empat tahun setelah saya meninggalkan sekolah tercinta itu, saya menyadari betapa teramat sangat pentingnya masalah karakter ini untuk terus menjadi perhatian. Saya mulai paham mengapa orang tua kita cerewet sekali untuk hal semacam ini. Pada bumi yang semakin menua ini, ternyata gersang tidak hanya melanda tanahnya tetapi juga hati penghuninya. Panas terik tidak hanya pada suhu udara yang kita rasa, tapi juga pada pikiran-pikiran orang di sekitar kita.

Pendidikan akademik yang tinggi bukanlah jaminan bahwa seseorang akan menjadi lebih hangat, penuh sopan santun, rendah hati, dan peduli. Saya sering membuat perbandingan terhadap berbagai orang yang saya temui.

Mengapa seorang supir truk sampah bisa menjadi pribadi yang lebih ramah, hangat, dan peduli dibandingkan dengan pegawai administrasi (maaf contohnya pegawai administrasi, karena saya punya banyak pengalaman pahit berurusan dengan administrasi di kota ini).
Seorang supir truk sampah, rutinitasnya menjemput sampah, mengantarkannya ke TPA, menghirup bau amonia, metana dan berbagai gas lainnya, menghadapi cuaca yang panas terik, jalan yang macet, berdebu dan semua hal-hal menyebalkan itu, mengapa justru bisa memiliki pembawaan yang lebih menyenangkan dibandingkan mereka yang bekerja di ruangan yang wangi, dingin, dan berinteraksi dengan orang-orang yang berpendidikan lainnya?

Mengapa seorang ibu penjual nasi, lebih peka dan peduli terhadap gelandangan di pinggir jalan dibandingkan mahasiswa terpelajar yang justru lebih sering bolak-balik melewati gelandangan ini? (yang ini nampar diri sendiri).

Mengapa seorang penjual martabak di pinggir jalan lebih dermawan dibandingkan pemilik toko obat diseberangnya?

Mengapa seorang tukang becak lebih mampu memuliakan tamu yang datang ke rumahnya dibandingkan seorang akademisi?

Serta berbagai pertanyaan dan kondisi lainnya yang sering kita temui. Dan saya semakin mengerti. Orang tua kita, guru-guru kita, adalah orang-orang yang memiliki cita-cita besar agar anak-anaknya menjadi sosok manusia berkarakter surga. Betapa damainya dunia ini jika setiap kita mampu memperlakukan saudara kita sebagaimana ia ingin diperlakukan. Betapa menyenangkannya berada di tengah-tengah orang-orang yang mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya dan kepentingannya sendiri. Betapa berwarnanya hidup ketika yang tua dan muda saling menghormati dan menghargai. Menyadari bahwa setiap manusia semestinya dihargai, dikasihi, dan disayangi bukan karena pangkat, gelar, status sosial, usia dan berbagai alasan lainnya yang sering menjadi latar belakang sikap seseorang terhadap orang lainnya.

Benarlah nasihat itu, Berjalanlah dan ambillah pelajaran, ringankan langkah untuk membaur bersama orang-orang diluar sana. Agar kita menjadi lebih peka dan bijaksana. Karena pelajaran di dalam kelas hanya untuk meluaskan pikiran. Sedangkan pelajaran dan pengalaman diluar sana meluaskan hati dan pikiranmu secara beriringan.

Semoga kita selalu belajar menjadi generasi-generasi berkarakter surga.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti adalah Konsekuensi Mencintai

sekilas kurasa 'ada'

"Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa, nak?"