Menjamin Perlindungan Anak adalah Tugas Semua Komponen Bangsa
Sejatinya, mendidik dan membesarkan seorang anak bagaikan menanam sebuah
tanaman. Bagaimana perlakuan sang penanam terhadap benih tanaman hingga proses
penanaman dan pemeliharaan tanaman akan menentukan kondisi tanaman tersebut. Sudahkah
ia tertancap pada tanah yang subur, di siram air setiap hari, di berikan pupuk,
dan juga diletakkan di tempat terbaik hingga ia bisa tumbuh subur. Tanaman yang
mendapatkan perlakuan yang baik akan tumbuh subur dan menghasilkan buah hingga
bermanfaat untuk orang lain. Demikian pula seorang anak. Keluarga yang menjadi
tempat ia tumbuh akan menentukan bagaimana karakter yang akan terbentuk pada
dirinya. Lingkungan di sekitarnya akan membentuk pola pikir, sikap, serta semua
hal yang berkaitan dengan dirinya.
Anak-anak adalah penentu bagaimana kondisi Bangsa ke depan. Mereka lah
yang akan membawa harapan-harapan bangsa pada pundaknya, menjadikan harapan-harapan
itu tidak hanya sekedar menjadi tulisan dan pernyataan impian dari generasi
sebelumnya, tetapi juga mengupayakannya menjadi sebuah kenyataan. Anak-anak
adalah penerus berbagai target jangka panjang yang telah dimulai sejak saat ini
ataupun sebelumnya-sebelumnya. Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi
setiap elemen bangsa untuk sungguh-sungguh dalam memberikan perhatian terhadap
anak-anak. Perlindungan anak tidak hanya dari persoalan kekerasan pada anak,
pelecehan seksual, ataupun eksploitasi anak. Perlindungan anak mencakup segala
hal yang berkaitan dengan kehidupannya, termasuk menjamin kesehatan,
pendidikan, bahkan hal yang paling sering diabaikan adalah perhatian dan kasih
sayang.
Komisi Perlindungan Anak Indoensia (KPAI) mengungkapkan dalam setiap
tahunnya telah terjadi 3.700-an atau sebanyak 13-15 kasus kekerasan terhadap
anak dalam setiap harinya. Bentuk kekerasan terhadap anak diantaranya adalah
bentuk kekerasan seksual, kekerasan fisik lainnya, pembunuhan, perdagangan
manusia (human trafficking), narkoba,
anak-anak jalanan dan sebagainya. Jumlah yang disampaikan oleh KPAI adalah
jumlah kekerasan terhadap anak yang dilaporkan, masih banyak lagi kasus yang
tidak dilaporkan dan terus menjadi ancaman terhadap kehidupan anak-anak di
Indonesia.
Tidak hanya kekerasan pada anak yang menjadi persoalan, tetapi juga
permasalahan gizi pada anak. Radio Republik Indonesia pada website nya memaparkan penjelasan dari Deputi Koordinasi
Peningkatan Kesehatan Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
Rachmat Sentika pada 23 Februari 2015 lalu, yang menyatakan bahwa di Indonesia Kekurangan
gizi 19,6 persen yang 5,4 persennya adalah penderita gizi buruk. Jadi 24 persen
balita di Indonesia nyaris kekurangan gizi. Hal ini juga akan menjadi ancaman
karena status gizi anak akan berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya.
Selain itu, masih banyak persoalan anak di Indonesia yang perlu
mendapatkan perhatian untuk dapat diatasi. Kemiskinan seringkali disebutkan
sebagai pemicu tidak terjaminnya perlindungan terhadap anak, terutama anak-anak
terlantar di negeri ini. Namun pada kenyataannya persoalan anak tidak hanya
terjadi pada kelompok masyarakat miskin, tetapi juga masyarakat pada kelas
menengah ke atas. Berbagai kesibukan orang tua seringkali menyebabkan anak
kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang sehingga anak-anak membaur dengan
lingkungan yang tidak baik untuk mengatasi rasa sepinya. Lingkungan yang tidak
baik terhadap perkembangan mental dan psikologis anak seringkali menjadi pemicu
terjadinya penyalahgunaan narkoba, anak-anak menjadi objek pornografi, anak-anak
yang sudah menjadi perokok aktif, serta berbagai permasalahan anak yang lainnya.
Persoalan anak di Indonesia adalah tugas setiap elemen bangsa, setiap kita
wajib ikut serta dalam penyelesaiannya. Berbagai Undang- Undang serta Peraturan
Pemerintah terkait Perlindungan anak tidak akan ada gunanya jika hanya terlahir
sebagai sebuah tulisan tanpa ada upaya seluruh komponen masyarakat untuk
mengimplementasikannya. Berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam menjamin
perlindungan terhadap anak sebagai generasi penerus bangsa adalah
1.
Menanamkan nilai-nilai agama. Begitu banyak
orang tua yang hanya mengembankan tugas penanaman nilai-nilai agama pada
anaknya hanya pada sekolahnya. Padahal orang tua adalah pihak yang dapat secara
intens menanamkan nilai-nilai agama dalam diri anaknya. Karena agama adalah
penunjuk arah bagi manusia. Nilai-nilai agama yang tertanam di dalam diri anak
akan membentuk kepribadiannya menjadi manusia yang beretika, bermoral, serta
tidak mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan yang tidak baik. Selain itu,
sistem kurikulum di sekolah juga sebaiknya tidak hanya mengajarkan agama hanya
dalam bentuk materi-materi saja, tetapi juga mengarahkan dalam pembentukan
sikap yang tertanam di dalam diri anak.
2.
Melakukan pemberdayaan masyarakat. Kemiskinan
dan rendahnya tingkat pendidikan seringkali menjadi penyebab timbulnya
permasalahan anak seperti gizi buruk, anak terlantar, eksploitasi anak, dan
sebagainya, sehingga diperlukan upaya pemberdayaan masyarakat agar dapat hidup
mandiri dan memperbaiki kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat dapat
dilakukan dengan mengembankan amanah kepada kaum intelektual. Misalnya, setiap
Universitas harus memiliki beberapa desa binaan, sehingga pihak Universitas
terutama mahasiswa dapat menjadi penggerak aktif dalam melakukan pemberdayaan. Upaya
pemberdayaan dapat dilakukan berupa pemberian pengetahuan kepada masyarakat
terkait kesehatan, pendidikan, dan sebagainya serta dapat menjadikan masyarakat
menjadi kelompok yang mandiri dengan menggali potensi yang ada di dalam
lingkungannya sendiri, seperti melakukan wirausaha. Pemberdayaan masyarakat
juga dapat dilakukan oleh berbagai organisasi kemasyarakatan.
3.
Melakukan pengawasan terhadap implementasi
peraturan terkait perlindungan anak, serta memberikan pemahaman kepada seluruh
masyarakat bahwa anak adalah aset yang begitu berharga dimana masa depan bangsa
berada di tangannya sehingga kasus-kasus terhadap kekerasan pada anak dapat
menjadi perhatian semua pihak, menimbulkan keyakinan pada masyarakat untuk
berani melaporkan kasus-kasus kekerasan terhadap anak yang mereka ketahui.
Permasalahan anak bukanlah permasalahan yang dapat diselesaikan secara
instan. Butuh kesungguhan dan kerja keras setiap komponen bangsa di dalamnya. Marilah
sama-sama kita saling mendukung dan berupaya maksimal dalam melindungi anak-anak
Indonesia. Karena bagaimanapun hebatnya capaian bangsa ini pada generasi saat
ini tidak akan ada gunanya jika generasi berikutnya tidak bisa menjaganya. Namun, pada
kenyataannya justru masih banyak persoalan bangsa yang belum terselesaikan
serta begitu banyaknya impian bangsa yang belum bisa terealisasikan, maka marilah
sama-sama kita memberikan perlindungan terhadap seluruh anak Indonesia sebagai generasi
penerus yang akan melanjutkan langkah-langkah perjuangan serta memegang tonggak
bagaimana bangsa ini kedepannya akan berdiri tegak.

Komentar
Posting Komentar