Lelaki Baik (Another Story)
Rintik-rintik
hujan meciptakan melodi indah di sore yang begitu mendamaikan. Membuat basah
tanah yang telah sekian lama kekeringan karena dilanda kemarau panjang.
Terlebih lagi, ia hadir mendinginkan hati-hati yang telah dikurung lingkaran
api emosi, lelah berusaha memadamkan, hampir saja ia meledak karena tuannya tak
lagi sanggup menahankan..
Beberapa
menit yang lalu sepasang suami istri lewat di depan rumah, berlari kecil karena
mereka tak membawa payung yang bisa menaungi agar tidak basah karena kehujanan.
Laki-laki itu, berlari kecil sambil menjambak
rambut istrinya yang meringis dan berurai air mata, meskipun air mata itu
tak terlihat karena disapu air hujan. Mungkin begitu cara suami zaman sekarang membelai perempuan yang dulunya setengah
mati ia perjuangkan.
I : jadi perempuan harus bisa
mandiri, supaya tidak direndahkan sama laki-laki.
(perempuan paruh
baya itu akhirnya memulai percakapan setelah sekian lama yang terdengar hanya
suara hujan yang berkejaran)
A : mengangguk
Kemudian kembali
hening, sesaat.
A : Bu, saya mau lanjut S3.
I : S3? (mengernyitkan dahi)
A :
Iya, di Australia, Ibu ikut saja ya. Kalau tetap disini ibu akan merasa sepi
karena sendiri
I :
Kamu tidak ingin menikah nak? Bukankah teman-teman seusiamu udah pada nikah dan
punya anak.
A : KDRT, perselingkuhan, perceraian...
ancaman-ancaman itu terlalu mengerikan..
(Kembali
hening...)
I :
Tidak semua lelaki seperti itu nak.. percayalah, di luar sana masih banyak
lelaki yang baik. Sudah berapa lamaran yang kamu tolak. Dan mereka semua
laki-laki yang baik kan? Santun, sholeh.. lalu kamu ingin yang bagaimana?
A :
saya ingin yang benar-benar baik bu. Bukan yang terlihat baik. Bukankah ayah
juga laki-laki yang terlihat baik? Semua orang di luar sana menyanjungnya. Dan
ibu... bukankah dulu ibu jatuh hati
karena kebaikan itu. Buktinya..... ah, sudah menjadi bias mana orang yang baik
dan mana yang pura-pura baik bu.
Susasana
kembali hening. Perempuan paruh baya itu menyeka air yang mulai menganak sungai
di sudut matanya. Perlahan ia rangkul putri semata wayangnya. Ia paham bahwa
putrinya bukan lagi gadis kecil yang bisa ia kelabui perihal masa lalunya.
I :
maafkanlah semua kejadian yang telah terjadi di masa lalu, nak. Agar langkah
kaki kita ke depan menjadi lebih ringan. Agar tak ada lagi beban yang ikut
menggantung di pundakmu. Cabutlah duri yang telah terlanjur melekat di telapak
kakimu agar tak lagi ada perih yang menyertai.
Anak perempuan itu
menatap dalam wajah ibunya. Ia bisa menangkap setiap gores luka pada setiap
kerutan di kulit wajah wanita yang paling ia cintai itu. Ia paham benar betapa
ibunya ingin melihat anak semata wayangnya bersanding di pelaminan, memiliki
anak, lalu melihat rumah kembali dihiasi oleh suasana riuh anak-anak kecil yang
bermain..
Bersabarlah sebentar saja bu... suatu hari nanti akan
datang laki-laki yang benar-benar membuat saya yakin bahwa dialah orangnya.
Orang yang akan mengingat sampai mati setiap janji yang ia ikrarkan setelah
ijab qobul di hadapan penghulu, keluarga, dan semua undangan. Seseorang yang
akan mengobati setiap luka pada masa lalu kita. sabarlah sebentar bu.. Sabarlah
menunggu lelaki baik itu, saya hanya tidak ingin melihat Ibu kembali kecewa.
Hening... Hujan
mulai mereda.
Komentar
Posting Komentar