Fajar dan Senja
Adalah aku. Yang diam-diam mengumpul
harap di bawah langit gelap. Menghitung detik. Bersabar menjumlahkan hitungan
detik 60 kali menjadi menit. Lalu lebih bersabar lagi menghitungnya hingga
ribuan bahkan puluh ribuan kali hingga pergantian hari tiba.
Adalah aku. Yang diam-diam melangkah
membuka pintu lalu duduk di bawah langit yang masih gelap pekat tak ingin
tertinggal sedetikpun menyaksikan fajar tiba. Adalah aku, yang setiap hari
setia dan tak pernah lupa menyambut fajar dengan mata berbinar, merekam setiap
prosesnya hingga bersinar dan mengubah langit gelap menjadi benar-benar terang.
Ia.. yang menghidupkan setiap benda di dunia dengan sentuhannya.
Detik kembali berjalan, mengubah dini
hari menjadi pagi, berganti siang, hingga sore. Lalu diantara sore dan malam
ada senja ditengah-tengahnya. Adalah kau. Yang setiap hari mengejar waktu agar
setiap urusan terselesaikan tepat waktu, lalu dengan tenang duduk dibawah
langit senja, merekam pergantian siang menjadi malam dengan sepenuhnya
ingatanmu.
Sayangnya cerita ini tak berdiri
masing-masing. Kalau saja aku dan kau benar-benar tidak berada pada cerita yang
sama maka tak akan ada yang perlu dipertentangkan. Dimana pula salahnya, aku
adalah sang penanti fajar, lalu kau adalah pemburu senja. Maka aku biarlah
dengan hidupku lalu kau dengan hidupmu.
Lagi-lagi sayang, fajar dan senja itu
berada pada cerita di buku yang sama, alur yang sama, lagipula setiap hari di
dunia nyata selalu ada keduanya. Benar-benar tak terhindarkan!
Kita sama-sama tau bahwa kita berdua
sama-sama mencintai surya dan langit jingga. Hingga kecintaan kita padanya
menumbuhkan bentuk "cinta yang lainnya". Sehingga kita pun saling mendambakan pertemuan. Lalu setiap
hari seperti itu, aku menjemput fajar di awal hari, dan kau melepas surya di
penghujung senja. Kita berharap bisa bersua, namun ternyata pertemuan bukanlah milik kita.
Kita sama-sama mencintai surya dan
langit jingga, namun sayangnya kita sama-sama tak menyadari bahwa cinta kita pada surya dalam keadaan yang berbeda. Aku menantikan detik-detik
pertemuan, sedang kau datang pada detik-detik perpisahan. Lihatlah.. pertemuan
memang bukan milik kita!
-18 Jumadil Akhir 1437 H-
*Akhirnya blog ini terisi lagi. setelah sekian lama naluri sastra berada dalam masa-masa kritis akibat kalah dalam peperangannya melawan Tugas Akhir dan berbagai kondisi mencekam lainnya #halah

hehhmmmmm..
BalasHapus#mengamati
duh.. jangan liat-liat bang :|
Hapus