Maaf, Aku memilih Lari...



Maafkan aku, jika aku memilih lari.. bahkan ketika kau masih baru saja mengambil langkah untuk menemui. Aku tak ingin kau temui. Jangan datang lagi. Ruh yang bertengger dalam badan ini baru saja membangun bentengnya..Masih basah, masih begitu rapuh dan lemah
Aku tau kau tak akan pernah berusaha untuk menyerangnya. Namun percayalah, entah bagaimana bisa ia meleleh dan hancur sempurna ketika kau mendekat padanya.. aku takkan meminta kau menjelaskan, karena kau pun tak tau jawabannya kan?
“Mengapa sekarang kau begitu memusuhiku?” tanyamu di suatu pagi
Aku memilih diam. Kadang diam menjadi jawaban paling benar bagi perempuan, meski seringnya diam itu sama sekali tak memberi penyelesaian. Ia tak ingin jawabannya membuatnya terlihat begitu lemah. Meski sebenarnya memang demikianlah kenyataannya.
Maafkan aku memilih sembunyi. Karena tanpa bertemu pun kau selalu hadir berkali-kali dalam mimpi, melemparkan ribuan duri pada ruh yang rapuh. Hingga mata tak berani memejamkan dirinya di malam hari. Penderitaan macam apakah lagi yang harus ia rasakan jika kau langsung hadir berdiri di hadapan.
Pergilah, menjauhlah selang beberapa masa.. Nanti, ketika telah sampai waktunya, saat benteng pertahanan itu sudah semakin kokoh, kau boleh datang kembali...

13 Sya'ban 1436 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti adalah Konsekuensi Mencintai

sekilas kurasa 'ada'

"Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa, nak?"