Padamu... Senja.



Aku tak tau kapan awal mula perjumpaan kita. Aneh memang, orang yang jatuh cinta biasanya akan mengingat setiap moment yang ada hubungannya dengan sesuatu yang ia cinta, bahkan untuk hal-hal yang tak penting atau hal-hal yang memang merupakan suatu peristiwa yang sangat kebetulan sekalipun. Setiap detail peristiwa akan terasa begitu berharga.
Aku mencintaimu senja. Cinta. Itu saja. Aku tak bisa menjelaskan mengapa aku mencintaimu. Bukan karena dikala senja langit merona dengan jingganya. Bukan karena ketika senja tiba burung-burung berformasi rapi untuk pulang ke sarangnya. Bukan pula karena angin senja membelai lebih mesra. Aku pun tak tau pasti sejak kapan benih cinta itu tertabur lalu akhirnya tumbuh subur.
Mengapa harus senja? Mencintai pagi akan membuatmu bahagia. Pagi, saat dimana bunga-bunga harapan merekah, menjadikan hari-hari terlihat cerah. Atau siang yang jauh lebih panjang. Kau tak perlu terburu-buru mengejar waktu untuk bertemu. Selalu terjadi perdebatan antara pikiran dan perasaan. Kau tahu senja? Untuk seorang wanita, meski pikirannya memberikan pemahaman tentang hal-hal yang sungguh merupakan realita, tapi tetap saja perasaan selalu berhasil mendapatkan celah untuk membenarkan apa yang ia rasa. Ia seringkali tak peduli dengan berbagai teori.
Aku hanya bisa menerka. Aku mencintaimu senja. Mungkin karena pagi sering membuat langkah tergesa-gesa. Mungkin karena siang terlalu panas dan melelahkan, maka aku memilihmu.
Aku mencintaimu senja, lagi-lagi kutekankan, bukan karena langit senja begitu memesona. Bukankah jika karena fisik itu namanya bukan cinta? Aku mencintaimu senja. Mungkin karena mengenalmu membuat aku tersadar akan persinggahan kehidupan ini persis seperti kehadiranmu, begitu sekejap...begitu sesaat. Tiba-tiba saja matahari lenyap, tiba-tiba saja langit gelap.
Mencintaimu senja, membuat aku merenung tentang apa saja yang telah dilihat oleh mata sejak ia terjaga, apa saja yang terucap dari lisan sejak ia kembali bicara, apa saja yang dilakukan oleh tangan dan kaki sejak matahari terbit hingga terbenam kembali.

Mencintaimu senja... membuat aku belajar menikmati kesunyian, karena disetiap akhir perjumpaan kita kau mengantarkanku pada gelapnya malam. Mencintaimu senja, membuat aku tertaut pada keheningan malam...saat dimana setiap jiwa bebas berkeluh kesah pada pemiliknya...


*lagi dikejar deadline tugas pencling sama PE Promkes, sempat-sempatnya buat tulisan kaya gini dulu o_O

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti adalah Konsekuensi Mencintai

sekilas kurasa 'ada'

"Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa, nak?"