Sedikit Goresan....tentang Azzam.
Azzam!
Entah mengapa belakangan topik ini mendominasi. Tentang azzam yang lemah,
tentang orang-orang yang berguguran di jalan dakwah. Tentang orang-orang yang
mencari celah untuk menyerah..
Bercerita tentang
Azzam. Azzam adalah seorang tokoh dalam novel Ketika Cinta Bertasbih yang merupakan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Al-Azhar University, Kairo. Ia adalah tokoh yang sangat menginspirasi, bekerja keras menuntut ilmu sekaligus berjuang menghidupi ibu dan adik-adiknya di kampung dengan penghasilan dari menjual tempe (?) #ahelah.. bukan bukan.... bukan Azzam
ini yang dimaksud.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), AZAM artinya "Teramat mulia" terutama dipakai dalam kesusasteraan Melayu Klasik yang diambil dari bahasa Arab. Pengertian lainnya dalam KBBI disebutkan bahwa AZAM adalah "tujuan; cita-cita; maksud", berazam artinya "bermaksud;", mengazamkan artinya "memaksudkan; berniat akan;".
Selain itu, kata AZAM juga terdapat di dalam Al-Qur'an pada surah Ali Imran ayat 159
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”
Maka berazzam dalam jalan dakwah adalah membulatkan tekad untuk senantiasa berkontribusi dan berdiri tegak dalam barisan penyeru kebaikan. Namun tuntutan zaman seringkali membuat azzam itu melemah, meremah menjadi puing-puing yang kemudian berserakan.. lalu akan banyak jiwa yang berguguran, karena azzamnya yang tak mampu dipertahankan.
Bukankah kekuatan azzam bergantung dengan keimanan? Maka akan sama pula seperti iman, harus kerja keras mendapatkannya. Harus ada landasan untuk mempertahankan azzam. Dan landasan itu tidak lain adalah Dia Yang Maha Menggenggam pikiran dan perasaan. Maka ketika keyakinan goyah, azzam melemah, mungkin penyebabnya tidak lain hanyalah karena landasan kita yang tidak kuat. Pondasi kedekatan kita pada Allah tidak cukup kokoh untuk bisa bertahan dalam badai-badai godaan yang meluluhlantakkan keyakinan.
Maka berazzam dalam jalan dakwah adalah membulatkan tekad untuk senantiasa berkontribusi dan berdiri tegak dalam barisan penyeru kebaikan. Namun tuntutan zaman seringkali membuat azzam itu melemah, meremah menjadi puing-puing yang kemudian berserakan.. lalu akan banyak jiwa yang berguguran, karena azzamnya yang tak mampu dipertahankan.
Bukankah kekuatan azzam bergantung dengan keimanan? Maka akan sama pula seperti iman, harus kerja keras mendapatkannya. Harus ada landasan untuk mempertahankan azzam. Dan landasan itu tidak lain adalah Dia Yang Maha Menggenggam pikiran dan perasaan. Maka ketika keyakinan goyah, azzam melemah, mungkin penyebabnya tidak lain hanyalah karena landasan kita yang tidak kuat. Pondasi kedekatan kita pada Allah tidak cukup kokoh untuk bisa bertahan dalam badai-badai godaan yang meluluhlantakkan keyakinan.
Dan...Perihal
“jiwa yang gugur di jalan dakwah“, mungkin alangkah baiknya jika kita berbenah.
Adakah kedekatan kita kepada Allah terus bertambah? Adakah interaksi dengan
Al-Qur’an tetap menjadi prioritas meski dalam kesibukan? Adakah amalan sunah
konsisten dikerjakan?
dan..bukankah
jiwa yang telah gugur masih tetap bisa kembali dalam jalan ini? Sama halnya
seperti daun yang gugur dari rantingnya, secara kasat mata ia memang tak lagi
menyatu dengan pohonnya tapi ia membantu menyuburkan tanah dimana akar pohon
itu bersemayam. Membantu merindangkan pohon itu dengan daun-daun baru..
Maka
ketika ada jiwa yang layu dan hendak “gugur”, bukankah lebih baik jika ‘saudara-saudara
yang memang menyayanginya’ tidak hanya menyaksikan, membiarkan ia diterbangkan
angin lalu mendarat di tanah yang salah, menyuburkan lahan yang salah? Paling
tidak, ketika ada jiwa yang layu dan hendak gugur, pastikanlah bahwa ia
mendarat di sekitaran batang pohon itu juga. Maka dengan begitu ia sesungguhnya
tak pernah mati, tetap berkontribusi, menjadi insan yang bermanfaat meski tak
terlihat..
Semua
proses dalam hidup ini kepada Allah lah muaranya. Maka Allah lah landasan kita
melakukan tindakan, kepada Allah pula arah langkah kaki ini berjalan.
Ya Allah,
tuntunlah kami menyempurnakan kedekatan dan keimanan kami kepada-Mu, agar
sempurna pulalah azzam kami bertahan di jalan ini. Agar kami tidak hanya
sekedar menggenggam teori tanpa ada realisasi. Agar tak ada hati yang tersakiti ketika kami menasihati.
*Entahlah,
ini hanya sepenggal tulisan dari pikiran yang pemahamannya masih terlalu dangkal.
Luahan perasaan yang masih sangat membutuhkan banyak arahan.. masih terlalu
banyak pertanyaan.. masih sangat butuh dikuatkan..

Komentar
Posting Komentar